Info Terbaru

Code Vein II: Ambisi Besar di Tengah Bayang-Bayang Kepunahan

 

Code Vein II: Ambisi Besar di Tengah Bayang-Bayang Kepunahan


Oleh: Bung Kepo

Setelah penantian panjang selama lima tahun yang penuh spekulasi, Shift akhirnya melepas sekuel yang paling dinanti, Code Vein II. Jika seri pertamanya sering dijuluki sebagai "Anime Dark Souls", maka seri kedua ini jelas punya mimpi yang lebih liar: menjadi "Anime Elden Ring". Namun, apakah ambisi untuk beralih ke format open-world dan menggunakan Unreal Engine 5 ini berakhir manis, atau justru menjadi bumerang bagi sang pengembang? Mari kita selami lebih dalam dunia yang hancur namun indah ini.

1. Narasi: Luka Masa Lalu dan Harapan di Ujung Jantung



Code Vein II tidak membuang waktu untuk basa-basi. Begitu kamu menekan tombol Start, kamu langsung dilempar ke sebuah atmosfer dunia yang mencekam, sunyi, namun anehnya sangat cantik. Fenomena The Resurgence bukan sekadar latar belakang cerita; itu adalah trauma kolektif umat manusia. Invasi Luna Rapacis—entitas monster yang muncul dari tragedi besar—digambarkan dengan sangat puitis sekaligus mengerikan. Mereka bukan sekadar monster yang ingin membunuh, tapi representasi dari kehancuran yang tak terelakkan.

Perubahan perspektif dari seorang Revenant (vampir) biasa di seri pertama menjadi seorang Revenant Hunter adalah langkah jenius dari sisi penulisan. Kamu berada di posisi yang sangat ironis. Tugasmu adalah melindungi sisa-sisa manusia yang ketakutan, namun di saat yang sama, kamu dibenci dan dianggap ancaman oleh komunitas Revenant lainnya yang hanya ingin hidup tenang tanpa gangguan Hunter. Konflik moral ini terasa kental di sepanjang dialog dan interaksi karakter. Kamu bukan pahlawan yang dipuja; kamu adalah "anjing penjaga" yang keberadaannya pun diragukan.



Lalu kita bicara soal Lou Magmell. Jika di game pertama kita punya Io sebagai pusat emosi, di sini Lou mengambil peran yang jauh lebih aktif. Hubungan kamu dengan Lou bukan sekadar hero dan sidekick. Berkat mekanisme "separuh jantung" yang ia berikan padamu, ada ikatan metafisika yang membuat setiap percakapan terasa lebih berbobot. Kemampuan Lou untuk menembus dimensi waktu bukan cuma gimmick plot, tapi fondasi dari seluruh petualanganmu. Kamu akan merasa benar-benar protektif terhadapnya, bukan karena dia lemah, tapi karena dia adalah kunci sekaligus korban dari sejarah yang berusaha kamu perbaiki. Tema pengorbanan di sini digarap dengan sangat dewasa, menjauh dari klise anime shonen pada umumnya dan masuk ke ranah drama eksistensial yang lebih kelam.


2. Mekanisme Pertarungan: Dansa Kematian yang Lebih Berbobot



Bagi para veteran seri pertama, kamu akan merasa familiar tapi sekaligus terkejut. Shift melakukan perombakan istilah yang awalnya membingungkan, tapi lama-lama terasa sangat pas dengan vibe barunya.

  • Formae (The New Skills): Menggantikan Gifts, Formae terasa lebih taktis. Slot skill yang terbatas memaksamu untuk benar-benar berpikir: "Apakah aku butuh serangan area, atau aku butuh buff pertahanan untuk Lou?" Variasi senjatanya juga gila-gilaan. Setiap senjata sekarang punya "berat" yang berbeda. Saat kamu mengayunkan Greatsword, getaran di kontroler DualSense PS5 terasa sangat nyata, memberikan impresi bahwa pedang itu benar-benar menghantam baja dan daging.

  • Sistem Jail (The Evolution of Blood Veil): Ini adalah favorit saya. Jika dulu Blood Veil terasa seperti aksesori tambahan, sistem Jail mengubah segalanya. Animasi drain (menghisap darah) di sini sangat sinematik. Saat kamu berhasil melakukan parry dan melancarkan serangan Jail, visualnya meledak dengan efek partikel yang memanjakan mata. Ini bukan cuma soal ngisi Ichor, tapi soal gaya dan dominasi di medan perang.

  • Ichor Management: Ritme pertarungan tetap intens. Kamu nggak bisa cuma spamming skill. Kamu harus berani masuk ke jarak dekat, melakukan serangan biasa, lalu mencari celah untuk melakukan Drain saat musuh dalam kondisi stagger. Ini adalah tarian yang berbahaya namun sangat memuaskan ketika berhasil dieksekusi dengan sempurna.

3. Revolusi Sistem Partner: Bukan Lagi Sekadar "Beban"



Salah satu kritik terbesar di genre soulslike adalah betapa bodohnya AI pendamping. Code Vein II menjawab itu dengan lantang. Partner kamu sekarang punya otak. Mereka tahu kapan harus mundur untuk healing, kapan harus melakukan interupsi serangan musuh, dan kapan harus memberikan buff padamu.

Mekanisme Sinergi adalah game changer. Ada opsi untuk "menggabungkan kekuatan" dalam satu tubuh. Secara visual, ini terlihat sangat keren, tapi secara fungsional, ini memberikan stat boost yang masif untuk menghadapi bos-bos yang punya HP tebal. Namun, ada harga yang harus dibayar: tingkat kesulitan game ini memang didesain dengan asumsi kamu membawa partner. Jika kamu mencoba bermain solo (di area yang memperbolehkan), kamu akan merasa game ini berubah dari "sulit" menjadi "mustahil".

Satu hal yang unik adalah mekanisme kebangkitan. Selama partner kamu masih hidup (dan tidak sedang dalam cooldown), kamu punya kesempatan kedua. Ini memberikan ruang bernapas bagi pemain baru, namun tetap memberikan tekanan bagi pemain pro karena setiap kali kamu bangkit, HP maksimal kamu akan berkurang. Ini adalah cara cerdas untuk menyeimbangkan accessibility dengan challenge.

4. Dunia Terbuka: Kebebasan di Atas Roda



Transisi ke Open World adalah pertaruhan terbesar Shift. Dan jujur saja, skala Magmell Island hingga daratan utama benar-benar luas. Kamu tidak lagi merasa terjebak dalam koridor sempit yang repetitif (selamat tinggal memori buruk Cathedral of the Sacred Blood!).

Untuk mengatasi jarak yang jauh, kamu diberikan sepeda motor. Mengendarai motor di dunia pasca-apokaliptik Code Vein II memberikan sensasi yang sangat berbeda. Ada kepuasan tersendiri saat kamu memacu kecepatan melewati reruntuhan gedung tua sambil melihat matahari terbenam dengan sistem cuaca dinamis yang berganti dari cerah ke badai pasir secara halus.



Eksplorasi di sini terasa sangat rewarding. Shift sangat pintar menyembunyikan item-item langka, senjata unik, dan dungeon opsional di sudut-sudut peta yang tidak terduga. Kamu akan sering terdistraksi dari misi utama hanya karena melihat sebuah reruntuhan di kejauhan yang terlihat mencurigakan. Sistem Map Jammer juga memberikan struktur pada eksplorasi; kamu harus mengalahkan "penjaga wilayah" ini untuk membuka kabut di peta, memberikan rasa pencapaian progres yang konkrit.

5. Kustomisasi Karakter: Salon Kecantikan di Tengah Kiamat



Mari jujur, sebagian besar dari kita memainkan Code Vein karena ingin membuat karakter anime impian, bukan? Di seri kedua ini, fitur kustomisasinya naik level ke tahap yang hampir konyol detailnya. Kamu bisa mengatur posisi aksesori hingga ke koordinat milimeter, mengubah gradasi warna rambut dengan palet yang tak terbatas, hingga mengatur intensitas cahaya di mata karaktermu.

Meski begitu, ada sedikit ganjalan. Pilihan bentuk wajah dan proporsi tubuh masih terasa agak terbatas pada standar "anime cantik/ganteng". Kamu akan sulit membuat karakter yang terlihat sangat tua atau punya bentuk tubuh yang unik (misalnya karakter yang gemuk atau sangat berotot). Namun, keterbatasan ini tertutupi oleh kualitas model 3D-nya yang sangat tajam.

Dan jangan lupakan Photo Mode. Ini bukan sekadar fitur tambahan; ini adalah game di dalam game. Dengan opsi Stationary dan Real-Time, kamu bisa membuat film pendek sendiri. Kamu bisa mengatur ekspresi Lou saat sedang bertarung, mengganti filter pencahayaan, hingga mengatur frame rate untuk mendapatkan tangkapan layar yang dramatis. Saya berani bertaruh, banyak pemain yang akan menghabiskan waktu lebih banyak di Photo Mode daripada melawan bos.

6. Sisi Gelap: Masalah Teknis yang Menghantui



Nah, sekarang kita masuk ke bagian yang kurang mengenakkan. Penggunaan Unreal Engine 5 di konsol seperti PS5 Pro ternyata belum sepenuhnya optimal. Ada paradoks yang aneh di sini: di satu sisi, visualnya bisa terlihat sangat memukau (terutama pada efek pencahayaan dan partikel), tapi di sisi lain, performanya sering "batuk-batuk".

  • Frame Rate yang Labil: Saat kamu berada di dalam ruangan atau area tertutup, game berjalan sangat lancar di 60 FPS. Namun, begitu kamu keluar ke area open world yang luas, terutama saat cuaca sedang badai atau banyak musuh di layar, frame rate bisa turun drastis. Ini sangat mengganggu ritme pertarungan yang membutuhkan presisi tinggi.

  • Visual Glitches: Efek pop-in (objek yang tiba-tiba muncul) masih sangat sering terjadi. Kamu bisa melihat rumput atau tekstur gedung baru "dimasak" saat kamu mendekatinya. Tekstur pada beberapa objek lingkungan juga terlihat rendah resolusinya, kontras dengan model karakter yang sangat detail.

  • Audio Bugs: Ini yang paling aneh. Beberapa bos besar terkadang kehilangan suara serangannya. Kamu tidak bisa mendengar suara dentuman saat mereka memukul tanah, yang mana dalam game soulslike, audio cue sangat penting untuk melakukan dodge.

Kelihatannya Shift masih kesulitan menjinakkan mesin UE5 untuk skala dunia sebesar ini. Dibutuhkan beberapa patch besar di masa depan untuk membuat game ini benar-benar stabil.

7. Kesimpulan: Apakah Code Vein II Layak Dibeli Sekarang?



Dengan harga $69.99, Code Vein II adalah investasi yang cukup besar. Jika kamu adalah penggemar berat seri pertama yang mencari kelanjutan cerita dan ingin melihat evolusi kustomisasi karakter, maka game ini adalah wajib. Konten yang ditawarkan sangat masif, mungkin butuh 60-80 jam untuk menyelesaikan semuanya (termasuk misi sampingan dan eksplorasi penuh).

Namun, jika kamu adalah pemain yang sangat mementingkan performa teknis dan stabilitas grafis di atas segalanya, mungkin kamu ingin menunggu satu atau dua bulan sampai optimisasinya diperbaiki.

Code Vein II adalah game yang punya jiwa. Ia punya keberanian untuk bereksperimen, punya narasi yang menyentuh hati, dan punya mekanisme pertarungan yang sangat solid. Meski masih ada kekurangan di sisi teknis dan variasi musuh yang agak repetitif, game ini berhasil membuktikan bahwa genre soulslike masih bisa berevolusi dan punya jati diri yang kuat tanpa harus selalu mengekor di belakang FromSoftware.

Skor Akhir: 8/10

Kelebihan Utama:

  • Narasi yang jauh lebih dewasa dan emosional (Lou Magmell adalah bintangnya).
  • Sistem pertarungan "Jail" dan "Formae" yang memberikan kepuasan visual dan taktis.
  • Dunia terbuka yang luas dengan mobilitas sepeda motor yang seru.
  • Photo Mode dan kustomisasi karakter terbaik di kelasnya.
  • Fanservice yang ditempatkan dengan pas tanpa merusak suasana.

Kekurangan Utama:

  • Optimisasi teknis yang buruk di PS5 Pro (FPS drop dan pop-in).
  • Variasi musuh biasa (minion) terasa sangat repetitif setelah 20 jam bermain.
  • Absennya fitur Online Co-op yang sangat disayangkan untuk game sebesar ini.
  • Beberapa bug audio yang mengganggu mekanisme pertarungan.

No comments